Kini, Desa Gencar Promosi Melalui Website Desa

Sorot mata Iwan Riyanto tertuju pada layar laptop. Perangkat Desa Cepagan ini memerhatikan dengan seksama materi yang disampaikan oleh tim dari Badan Prakarsa Pemberdayaan Desa dan Kawasan (BP2DK) dalam pelatihan Sistem Informasi Desa (SID) di Aula Kantor Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermades) Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Jari jemari pria kelahiran Warungasem Kabupaten Batang ini tak lepas dari keyboard laptop di depannya. Username dan password  untuk masuk di website desa dicatat dalam lembaran kertas yang dibawa. Dia tidak mau sedikitpun tertinggal paparan materi sekaligus praktik dari narasumber.

Sebenarnya, pelatihan serupa pernah diikuti oleh Iwan di aula yang sama akhir tahun lalu. Namun, kala itu dia belum mengerti apa saja yang mesti dilakukan untuk mengisi content dan meng-input data di domain tersebut.

“Kali ini, saya akan lebih serius belajar sistem informasi desa. Informasi desa sangat penting untuk diketahui publik,” papar Iwan membuka perbincangan disela-sela pelatihan, Rabu (5/9/2018).

Domain desa merupakan program yang didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Sebagaimana diketahui dalam Pasal 86 Undang Undang No 6 Tahun 2014 menyebutkan bahwa desa berhak mendapatkan akses informasi melalui sistem informasi desa yang dikembangkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Oleh sebab itu, Pemerintah dan Pemda wajib mengembangkan sistem informasi desa dan pembangunan Kawasan Perdesaan.

Iwan merupakan salah satu peserta dari puluhan perangkat desa yang mengikuti pelatihan SID di Aula Dispermades Kabupaten Batang.

“Materinya sebenarnya gampang. Data desa yang sudah ada lalu dimasukkan ke website desa, kemudian di-publish. Atau kegiatan yang sudah dilakukan dan akan datang bisa ditulis ke website,” tuturnya.

Setelah menguasai secara keseluruhan materi tersebut, dia berkeinginan untuk mempromosikan kegiatan yang sudah dilakukan desa dalam kurun satu tahun terakhir. Tak hanya itu, Iwan akan pro aktif merangkul pemuda desa setempat untuk memberikan informasi tentang potensi dan program yang dilaksanakan oleh kawula muda, baik olahraga, kaderisasi, pemberdayaan perempuan dan kegiatan lainnya.

Ugan Nugraha, salah satu narasumber dari BP2DK menyampaikan kemajuan era teknologi saat ini semestinya membuka kesempatan siapapun untuk bisa mengakses informasi. Apalagi, informasi di desa belakangan ini menjadi sangat menarik dengan program dan kegiatan di desa melalui dana desa maupun dana penunjang lainnya.

Namun realitanya, informasi dari desa ke warga masyarakat setempat saat ini kurang begitu tersampaikan dengan baik. Selama ini, informasi desa lebih bisa diakses melalui media sosial dan grup whatsApp. Dan yang perlu diketahui, bahwa informasi desa melalui medsos belum tentu bisa dipertanggungjawabkan.

“Untuk membuat informasi merata, maka perlu ada website desa. Dengan program smart village, akses desa akan bisa tersampaikan secara merata kepada seluruh masyarakat dan dunia,” jelas dia.

Ugan memberikan penjelasan modal dasar dalam menulis informasi atau berita yakni 5W+1 H. Dan yang tak kalah penting yakni membuat konten berita yang menarik supaya pembaca bisa tertarik terhadap informasi tersebut.

Untuk mengetahui informasi desa, katanya, tidak perlu bersusah payah dalam mencari ide. Sebab, banyak potensi desa yang bisa digali sesuai dengan kemampuan dari masing masing desa, bisa kuliner, budaya maupun wisata dari desa tersebut.

“Harapannya, potensi desa bisa terakses semua orang. Bahkan, informasi desa bisa diakes oleh pemerintah pusat,” terang dia.

Kepala Dinas Komunikias dan Informatika (Dinkominfo) Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah, Anis Rosidi menyampaikan desa saat ini menjadi obyek kegiatan dengan adanya dana desa. Namun demikian, informasi secara luas dari desa belum digarap maksimal.

“Sudah ada website desa. Inilah peluang informasi yang cukup besar untuk mengakses kegiatan di desa,” jelas dia.

Sementara itu, dalam laman Kominfo, Direktur Pemberdayaan Industri Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Septriana Tangkary menjelaskan peran Kominfo dalam mendorong seluruh desa di Indonesia terhubung dengan TIK dilakukan melalui dukungan penyediaan domain id dan hosting laman website desa secara gratis selama satu tahun.

Selain itu, dia menjelaskan, Kementerian Kominfo juga menyediakan aplikasi bernama Sistem Informasi Desa dan Kawasan (Sideka), yang memudahkan perangkat desa memberikan informasi terkait dengan kondisi desa, yang bisa diakses banyak pihak.

“Tujuan aplikasinya untuk melihat jumlah penduduk, penghasilan, luas wilayah, dan jadi penentu keunggulan desa agar bisa dipromosikan sebagai pariwisata atau kegiatan ekonomi,” ucapnya.

Dasar data tersebut ke depan bisa digunakan untuk pemetaan kesejahteraan, penyebaran, dan memudahkan pemerintah mengetahui potensi di suatu desa agar bisa dipromosikan. Namun, menurut dia, dengan syarat perangkat desa harus rajin memperbarui informasi di laman situsnya.

Lebih lanjut, ia menuturkan proses pendampingan penggunaan aplikasi dan TIK akan dibantu oleh Kementerian Desa melalui Badan Prakarsa Pemberdayaan Desa dan Kawasan, yang terjun langsung ke masyarakat.

Adapun kendala yang saat ini masih dihadapi dalam pemerataan TIK ke semua desa, kata dia, adalah jaringan telekomunikasi yang belum merata di setiap daerah. (M. Khamdi/red)

leave a comment

Create Account



Log In Your Account