Barangkali kita telah begitu akrab dengan satu nama (nabi) ini. Tentang ceritanya membikin bahtera yang megah demi menyelamatkan kaumnya dari ancaman bandang yang tak biasa. Bahtera pun dirancang. Media keselamatan dibangun. Umat (ingin) selamat.

Nuh, yang berjuang dalam dakwah selama ratusan tahun, sungguh patut diapresiasi. Pasalnya, tak banyak yang maudan rela jadi pengikutnya. Sungguh bisa dibayangkan, betapa dakwahnya itu tak mudah. “Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).’” (Q.S. Nuh [71]: 5-6)

Nuh—yang berumur hampir sepuluh abad—tak menyerah. Pun tak bersikap keras, apalagi pongah. Nuh adalah cerminan hamba yang dibimbing oleh Sang Khaliq. Beliau tetap intens dan konsisten, walau apa menimpanya. Nuh, sang Nakhoda itu, mengajak pada ke-ilahi-an dengan terang-terangan, pun dengan diam-diam.

Sampai suatu saat, Nuh pun bersikap “lain” dalam menghadapi kejumudan kaumnya—ketika banyak dari mereka yang membangkang dan melulu mencacinya. Nuh merangkul yang beriman, dan “menolak”para pendurhaka: “Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yangberiman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang lalim itu selain kebinasaan.” (Q.S. Nuh [71]: 28)

Perintah membuat kapal pun turun. Umat segera diminta berbenah karena bakal ada air bahyang menghantam, menerjang dari segala penjuru. Bagi yang tak meyakini, tentutak hirau, berkacak pinggang, lalu membiarkan Nuh sendiri, bersama beberapa pengikutnya yang setia, tetapi dalam jumlah yang tak banyak. “…. Kamiberfirman, ‘Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.’ Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” (Q.S. Hud [11]: 40)

Pembuktian pun dihadirkan atas tantangan kaum yang ingkar. Banjir meradang, menerjang,bagi siapa saja yang tak mau turut dalam keyakinan Ilahiah dan berdiri di luar bahteranya.

Dalam gelombang kutukan itu, ada satu hal yang dipertanyakan Nuh. Sebagai insan, betapa ia merasa pilu dan sedih bukan kepalang. Anaknya ternyata tak turut ke dalam bahteranya. Kan’an, bersikap menolak ajakan ayahandanya. Ia bersikeras dan memilih menghadang bandang yang dahsyat: “Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: ‘Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.’” (Q.S.Hud [11]: 42)

Namun, “Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungihari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (Q.S. Hud [11]: 43)

Gagalkah Nuh membimbing bagian dari keluarganya (anaknya) sendiri? Tak berhasilkah Nuh membina orang-orang terdekatnya, terutama anaknya? Dengan begitu, apakah Nuh adalah khalifah (pemimpin) yang diragukan?

Tidak. Nuh ialah khalifah yang haqq. Tugas serta misinya bertaut dengan keyakinan, keilahiahan, katauhidan. Tentu kita sama tahu, soal keyakinan adalah hal paling sunyi dalam diri tiap individu. Sebagaimana halnya kita sering luput menilai kadar keimanan seseorang. Yang disangka emas, mungkin loyang; yang disangka loyang, mungkin saja emas. Kita hampir tak tahu pasti. Dengan begitu, keyakinan bersangkut erat dengan kondisi batin seseorang. Misteri. Diridhai atau dimurkai seseorang, kita tak tahu pasti. Kita pun tak bisa menerka-nerka atas siapa saja Tuhan hendak berkehendak. Hakikat hidayah, Tuhan yang serba tahu. Dan, Tuhanpun begitu gamblang melihat hipokrisi dalam sanubari seseorang. Ampun.

Dalam rasa sedih sekaligus haru, Nuh pun menganggap dirinya alpa—jika tanpa kasih sayangdan ampunan-Nya. Nuh terenyuh. “Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnyaaku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikatnya). Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan(tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi. ” (Q.S. Hud [11]: 47)

Sampai air bah itu reda, dalam kesedihan sebagai sosok ayah yang mungkin belum tuntas, Allah Swt berfirman, “…. Hai Nuh, turunlah dengan selamat dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang beriman) dari orang-orang yang bersamamu ….” (Q.S. Hud [11]: 48). Nuh bersujud atas kemahabesaran-Nya.

Wallahu a’lam ….

[catatan ekspres #capres]

leave a comment

Create Account



Log In Your Account