Pasar Tiban, Perlawanan Masyarakat Batang Terhadap Mal dan Supermarket…

Pasar Tiban, Perlawanan Masyarakat Batang Terhadap Mal dan Supermarket…

Pasar Tiban, Perlawanan Masyarakat Batang Terhadap Mal dan Supermarket…

Ratminah, masih konsisten menjajakan barang dagangan berupa bumbu dan sayur mayur berkeliling dari kampung ke kampung. Kendati usia sudah renta diangka 74 tahun, semangat mencari penghasilan sehari-hari tak pernah luntur. Hujan, baginya bukan penghalang untuk terus berjualan.

Ya, itulah aktivitas sehari-hari Ratminah. Mungkin tidak banyak orang mengenal beliau. Namun siapa sangka, dialah pencetus adanya Pasar Tiban di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Dinamakan Tiban karena pedagang datang secara tiba-tiba di suatu tempat. Bukan Tiban menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang berarti uang pasangan dalam perjudian, lotre, dan sebagainya.

Lokasi Pasar Tiban di Batang kini kian menjamur di beberapa tempat. Masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah memanfaatkan keberadaan Pasar Tiban untuk menopang kebutuhan harian.

“Saya mengawali jualan bumbu sekitar 10 tahun lalu di sebelah Jembatan arah Kecepak, dekat Kramat Batang,” ujar Ratminah mengawali perbincangan dengan Kompos.Net, beberapa waktu lalu.

Sampai sekarang, Ratminah tidak mau berhenti untuk menjajakan barang dagangannya. Dia justru merasa jengah saat tidak ada aktivitas sehari-hari. Kendati tempat berdagang hanya beralaskan tikar, omzet harian dari jualan bumbu dan sayur mayur tembus angka Rp3 juta/malam. Bisa dibayangkan, dalam satu minggu, Ratminah bisa mengantongi uang Rp21 juta dan pendapatan perbulan bisa menembus angka Rp84 juta, dengan analogi Rp21 juta X 4 minggu.

“Itu baru satu pedagang. Belum pedagang lainnya yang pendapatannya berkisar Rp300.000 sampai Rp2 juta per malam, tinggal kalikan berapa perputaran uang dalam semalam,” tambah Ruqila Zaini, Pengurus Paguyuban Pasar Tiban Batang.

Jumlah pedagang di Pasar Tiban Kabupaten Batang sampai sekarang mencapai 400-an orang. Ruqila bercerita, para pedagang menjajakan beragam kebutuhan sehari-hari, mulai dari bumbu, makanan, camilan, pakaian dan kebutuhan lainnya. Adapula, aneka hiburan dan mainan anak-anak.

Uniknya, para pedagang mayoritas orang yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari perusahaan.

“Jadi semakin banyak orang di-PHK, makin banyak orang jualan dadakan. Dari tahun ke tahun keberadaan pedagang naik 100% lebih,”  terangnya.

Ibu rumah tangga asal Kadilangu, Kauman Batang ini menuturkan keberadan Pasar Tiban sangat membantu perekonomian masyarakat menengah ke bawah. Mereka bisa mendapatkan uang harian dari hasil jualan dan pembeli tidak perlu jauh-jauh pergi ke mal untuk mendapatkan barang yang diinginkan.

“Sekarang, pedagang harus bisa mendekatkan pada konsumen. Dengan cara seperti ini, kami bisa ‘melawan’ keberadaan supermarket dan mal yang kian menjamur,” jelasnya.

Ruqila mengatakan keberadaan paguyuban sudah berbadan hukum. Oleh karena itu, para pedagang yang tergabung paguyuban akan mendapatkan perlindungan dari pemerintah setempat. Tidak hanya itu, jalinan silaturahmi antar pedagang selalu terjaga lantaran ada kegiatan rutin triwulan-an.

“Setiap minggu ada iuran rutin Rp3.000/orang. Uang itu untuk kegiatan sosial, baik membantu orang sakit maupun orang meninggal dunia,” jelas dia.

Data dari Bagian Perekonomian Pemerintah Kabupaten Batang menyebutkan pelaku usaha mikro kecil dan menengah atau UMKM di Pasar Tiban jumlahnya meningkat 100% per tahun. Indikatornya, lokasi jualan di pinggir jalan kian memanjang hampir 1 kilometer dari yang sebelumnya hanya 200 meter.

Mereka berjualan memanfaatkan titik keramaian, dan dipinggir jalan. Memang agak menggangu ketertiban lalu lintas lintas. Tapi pedagang sudah memahami tidak berjualan menjorok ke badan jalan.

Alhasil, geliat perekonomian daerah bisa bertumbuh dengan keberadaan para pelaku UMKM menjajakan barang dagangan di Pasar Tiban. Bahkan, dampak positifnya dapat mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran di Kabupaten Batang.

Data terakhir, jumlah Rumah Tangga Sasaran di Kabupaten Batang tahun lalu sebanyak 59.000 orang. Adapun, saat ini berjumlah 53.000 RTS. Artinya, ada pengurangan 6.000 RTS atau masyarakat yang tidak mampu.

Perekonomian di Kabupaten Batang sampai sekarang diangka 6%, dari sebelumnya hanya 5%. Pertumbuhan itu cukup bagus dibandingkan dengan daerah lain. Salah satu penopang pertumbuhannya dengan menggeliatnya para pelaku UMKM.

Penulis: Hamdi

leave a comment

Create Account



Log In Your Account