Rintik Rindu

Hujan yang dinantinya tak kunjung datang, bukan serakah karena banyak keinginan. Toh ia hanya butuh hujan untuk turun. Setiap rintik yang akan menerpanya mungkin sebuah fenomena biasa saja. Tapi dalam setiap rintik yang luruh, berjatuhan pula pilu terkenangnya.

Bukan hal baru ia murung, seaktif apapun dirinya dalam indera penglihatan orang lain. Dinding perasanya beku, bahkan tertutup tembok baja yang sulit ditembus apapun itu kecuali hujan.

Sang hujan yang selalu berupa rintik air tawar penyejuk bumi. Sang hujan pula pelebur tembok bajanya, ia yang mencinta rintik-rintik rindu.

Ia sosok biasa saja dari kebanyakan orang yang berjalan di guyuran hujan. Yang membedakan dirinya dari yang lain adalah payung dalam genggaman tangannya masih utuh, tak ada niatan sedikitpun untuknya berlindung dibawah payung itu.

Ia tersenyum, semakin lebar dan hanya mengangguk kala sebuah tangan menariknya paksa berlindung pada payung hitam nan lebar miliknya.

“Rose…Kau bodoh?”
“….”
Yang dipanggil masih tersenyum, tanpa paksaan bahkan dinding bajanya  seakan telah sirna.
“Rose …. Kau benar-benar bodoh, kau tahu?”
“…”

Bungkam, Rose seakan hanya ingin mendengar suara seseorang yang menggenggamnya di balik rintik yang semakin deras itu.

“Rose… Kau mendengarkanku?”
“….”

Diam dan mengangguk, cukup bagi Rose membalas.

“Rose …. Rose …. Rose …. ”
“….”

Rose diam. Dia menunduk seraya benar-benar menikmati sapaan untuknya itu.

***

7 hari lalu.

“Rose … Kau mau langsung pulang?”
“Hmm ….”
“Ehh, kau sariawan?”

“Aku sariyanto, Yukaa sayang …. ”
“Dasar.”
“Hmm …. ”
“Kau benar-benar sariawan, Rose. ”
“Dan, kau benar-benar salah menebak, Yukaa.. ”
“Kau murung Rose. ”

Ucapan orang di samping Yukaa membuat Rose terpaku. Kala orang itu bersuara pasti tak ada yang tak serius.

“Kau benar, Jane.”

Aku Rose.

“Bicaralah, Rose. Kau tak pandai menyimpan kesedihanmu,” bujuk Yukaa seraya menepuk bahu Rose.

“Jane, tolong bujuk Kak Roky menemuiku. Aku mohon karena aku tak sanggup menujunya.”
As your wish, Rose.”

“Yukaa, kau juga di sampingiku selalu, ya? Maaf, aku terlalu serakah.”
Butiran bening lolos bertubi-tubi dari mata indah Rose. Ia tak mampu berpikir jika dirinya terlihat sangat memalukan.

***

Cinta yang tak biasa membuatnya harus membiasakan diri dengan kesakitan. Tak ada ungkapan rasa yang sempat terucap, tapi naluri tak bisa melepaskan; tak terpikirkan sedikit pun. Hanya pengagum dalam diam, membiarkan dirinya terbiasa di samping sang objek saja sudah lebih dari cukup.

Berbagi tawa renyah berbalut pilu tanpa sadar telah menginjak tiga tahun. Mengabaikan pemberi kepastian yang selalu setia, bahkan tak segan melepasnya tanpa pikir panjang.

Bukan Rose yang sok jadi sutradara hebat dalam hidupnya. Ia terlalu sulit melepas cinta dalam diamnya pada sang hujan, ataupun pemuda yang ia temui dalam guyuran hujan deras di dekat sekolahnya dahulu.

Pemuda yang selanjutnya dengan sengaja sering diamatinya dalam bus kota maupun tempat lain yang diketahuinya adalah favorit keduanya. Hingga tanpa kesengajaan, mereka benar-benar hidup dalam dunia yang sama di kampus. Saling berinteraksi, berbagi pendapat, canda, tawa, maupun ejekan kekanakan yang entah dari mana itu dimulai.

Namun, Rose tak mengetahui, seseorang lain dalam kesehariannya punya kadar cinta yang sama untuknya, selayaknya kadar cinta yang ia berikan percuma pada sang pemuda hujan. Atau, mungkin Rose mengabaikannya, berharap tak ada harapan kosong yang nantinya muncul.

***

“Rose …. Rose …. Rose …. ”

“….”

Rose diam. Dia menunduk seraya benar-benar menikmati sapaan untuknya itu. Tanpa sadar kakinya yang sejak tadi berjalan pelan, kini diam di tempat. Dipejamkannya pula sang mata dengan kasar. Tak ada lagi kenyamanan dari sapaan itu, dadanya seketika sesak. Lalu isakan serta air mata perlahan muncul. Bahkan, isakan itu terdengar pilu disertai derasnya air mata dan deras hujan.

Terduduklah Rose dengan kondisi tak cukup baik. Masih menangis dan mengingat masa lampau tentang pemuda hujan yang sudah ia ketahui sangat banyak kesakitan saat bersamanya dibandingkan ia bersama sang pemberi kepastian.

Ia membutakan diri dengan sang pemuda hujan yang terlihat bahagia bersama orang lain. Mengabaikan kepastian bahwa sehari yang lalu ia yang memayungi pemuda hujan itu dan gadis pilihannya dengan payung digenggamannya. Serta berlaku bodoh saat dengan pasti tangan kanannya itu menaburkan mawar merah pada dua gundukan tanah di depannya. Bodoh.
Itu Rose.

Dari sang pemuda hujan.

Bodoh.
Itu Roky.

Sang pemberi kepastian yang terabaikan.

Kakak kandung sang pemuda hujan yang sangat kokoh. Ia bahkan tak terkikis emosinya saat tahu sang adik yang terpilih memenuhi ruang kosong pengisi hatinya.

Ia juga masih tenang saat tahu sang adik berpulang dengan cepat karena bus kota andalan adiknya itu terbakar hangus.

Ia bukan pemilik kata bersajak, ia hanya pemuda pekerja keras dalam diam. Namun, keadaannya sekarang sangat hancur, kehilangan sang adik tanpa prakata hingga ekor matanya menatap sosok mata bulat itu terduduk tak berdaya di luar toko yang sedang dikunjunginya. Toko yang menjadi favorit keduanya, adiknya dan sang gadis pujaannya.

“Rose …. ”

“….”

Takut ilusinya bertambah, Rose masih bergeming.

“Rose, kau bodoh?”

“….”
Rose semakin takut. Ia menggenggam erat payung di tangannya dan memejamkan matanya dengan paksa.

“Rose …. Rintik hujan bukan tempat yang tepat untuk bersembunyi.”
“….”
Kalimatnya berbeda, Rose menjadi tenang dan perlahan menatap sosok di depannya.
“Rose …. ”

Sosok itu tersenyum, tulus. Namun, senyum itu mengandung pilu.

“Ini rintik rindu pertamaku,” Ucap Rose seraya masih menunjukkan tangisnya.

“Ini bahkan tak bisa disebut rintik, Rose. Hujannya sangat deras. Ayo berteduhlah.”
“Kak Roky, maaf, Rose serakah. Maaf, Kak Roky kehilangan Refan.”
“Sudahlah, Rose. Refan telah bahagia. Toh, ia pergi dengan Alena. kau tak cemburu, kan?”

Canda Roky dengan kemampuan terbaiknya karena bohong jika ia tak sedih maupun terluka, apalagi kehilangan.

“Dan kakak juga harus bahagia, berjanjilah. ”

“Hmmm …. Baiklah.”

“Ok, Kakak bisa meninggalkanku. Aku tak apa sendirian. Biar rinduku tak cepat berlalu karena ini benar-benar kerinduan pertamaku pada Refan, Kak.”

“Hmmm …. Berjanjilah kau juga tak akan terluka.”

“….”

Rose mengangguk dan membiarkan Roky belalu.

Dalam dirinya terdapat ketidakrelaan untuk melepas Roky kembali. Namun, ia berpikir akan sangat serakah jika meminta Roky di sisinya.

Kembali terdiam, Rose tak tahu harus berbuat apa. Kerinduannya pada Refan memang sangat besar, dan ini pertama kalinya ia merasakan. Namun, setengah hatinya terasa kosong, merasa ada sosok lain yang juga ia rindukan.

Entah sudah berapa lama Rose di bawah guyuran hujan. Namun, saat merasakan ada yang menghalangi rintik hujan yang dinantinya itu, tubuhnya seketika bereaksi. Ia menggigil.

Masih menggenggam payung hitamnya, Rose mengangkat pandangannya. Face to face, ia tak bisa menghindari tatapan teduh lawannya. Tatapan menenangkan yang ia yakini tatapan sosok yang ia rindukan, karena dirinya terasa penuh.

“Kakak akan menepati janji darimu, Kakak akan bahagia, Rose.

Rose tersenyum tulus dan mengangguk.

“Tapi, apa kau akan terluka karena kakak memintamu berjanji juga?”

“Aku akan baik-baik saja, apa pun itu.”

“Hmmm, kalau Kakak akan bahagia hanya bersamamu, apa kau akan terluka?”

“….”

“Rose …. ”

“Maaf, tapi aku takut kakak yang akan terluka.”

“Tidak, Rose. Kakak sudah berjanji akan bahagia.”

“Benarkah? Denganku?”

“Hmmm ….”

“Jadi, aku pastikan kakak tak akan terluka.”

“Lalu?”

“….”

Rose tak menjawab ia benar-benar menghangat sekarang. Dirinya menunduk malu.

“Ini rintik rinduku sesungguhnya, Kak?” ucap Rose seraya menyentuh rintik hujan yang mereda.

“Apa maksudmu, Rose?”

“Aku akan selalu mengingat momen ini, Kak. Momen pertama yang pastinya kurindu di kemudian hari.”

“Sungguh?”

“….”

Tak ada jawaban, mereka berdua hanyut dalam tatapan mata penuh arti. (*)

 

 

*) Sofie Larasati, mahasiswi jurusan Pendidikan Matematika di Universitas Pekalongan (Unikal). Mulai tertarik dunia kepenulisan saat aktif di UKM jurnalistik kampus. Kini ia juga bekerja di SMKN 1 Karangdadap, Pekalongan.

 

 

 

comments
  • Keren mbak👍
    Nulis lagi donkk😅 boleh request cast’nya nggk??😅

  • Mantap sekali nih, gali terus potensi yg ada pada dirimu Sofie 👍👍👍👍

  • mksih za rizaaa
    cast.a jan oppa2 udah bosen sama ff geh..
    wkkkk

  • bagus mbak,keren.
    nulis lagi nanti pasti di baca,

  • leave a comment

    Create Account



    Log In Your Account